BAGAIMANAKAH DUNIA TANPA TERUMBU KARANG?
Apa
itu Terumbu Karang?
Terumbu
karang merupakan ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh
biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-jenis karang
batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya
seperti jenis-jenis moluska, Crustasea, Echinodermata, Polichaeta, Porifera,
dan Tunicata serta biota-biota
lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis
nekton.
Terumbu
karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks dan produktif dengan tujuan
dengan keanekaragaman jenis biota sangat tinggi. Secara alami, terumbu karang
merupakan habitat bagi banyak spesies laut untuk melakukan pemijahan,
peneluran, pembesaran anak, makan dan mencari makan (feeding & foraging),
terutama bagi sejumlah spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Banyaknya
spesies makhluk hidup laut yang dapat ditemukan di terumbu karang menjadikan
ekosistem ini sebagai gudang keanekaragaman hayati laut.
Secara
umum terumbu karang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis, oleh karena
itu karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti
air yang jernih, dengan suhu antara 23-32 derajat celcius, dengan kedalaman
karang dari 40 m. Salinitas yang optimum untuk pertumbuhan karang antara 32 –
36 % dengan pH 7,5 – 8,5.
Terumbu
karang merupakan salah satu potensi sumber daya laut yang sangat penting di
Indonesia. Sumber daya terumbu karang merupakan salah satu sumber pendapatan
utama dan bagian dari hidup nelayan. Terumbu karang juga mempunyai nilai
estetika sangat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata yang dapat
meningkatkan devisa negara. Secara fisik karang melindungi pantai dari
degradasi dan abrasi.
Terumbu
karang di Indonesia yang umum dijumpai adalah karang tepi (Fringing Reef), karang penghalang (Barrier Reef) dan karang cincin (Atoll). Karang tepi merupakan tipe
karang yang paling umum dijumpai dan merupakan terumbu karang yang tumbuh di
tepi pantai. Karang penghalang tumbuh sejajar dengan garis pantai dan
dipisahkan oleh laut yang cukup dalam. Karang cincin merupakan tipe karang yang
menyerupai cincin dengan goa di tengahnya.
Indonesia
merupakan pusat sebaran dari jenis karang yang ada di dunia. Variasi bentuk
pertumbuhan karang di Indonesia sangat kompleks dan luas, sehingga dapat
dipakai sebagai tempat tumbuh bagi biota yang lain. Karang membentuk kerangka
kapur yang terdiri dari CaCO3 dan di dalam polip karang terdapat
zooxanthella yang merupakan symbion karang. Zooxanthella ini berupa algae
bersel satu yang membantu dalam pembentukan kerangka kapur.
Pembentukan
kapur ini sangat penting artinya dalam mengurangi jumlah karbon yang ada di
udara. Karbon yang ada di udara akan diubah menjadi CaCO3. Para
pakar telah menghitung kemampuan karang mengambil karbon yaitu 111 juta
ton/tahun yang ekivalen dengan 2 % dari seluruh karbon yang
ada.
Diramalkan
bahwa pada 50-100 tahun yang akan datang karang dapat menyerap 4 % dari jumlah
karbon (CO2) yang dilepas di udara, itu jika kondisi terumbu karang
di dunia tidak mengalami kerusakan.
Terumbu
karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan
alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya.Diperkirakan
luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari
60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai
Kawasan Timur Indonesia. Contohnya adalah ekosistem terumbu karang di perairan
Maluku dan Nusa Tenggara. Indonesia merupakan tempat bagi sekitar 1/8
dari terumbu karang Dunia dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman
biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Jika
habitat terumbu karang tidak diusik maka fungsinya akan optimal dan produksi
ikan karang akan dapat dipanen secara berkesinambungan dan memberi keuntungan
secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat di seluruh Indonesia untuk
masa kini dan masa yang akan datang sejalan pembangunan nasional.
Apa
sih Manfaat adanya Ekosistem Terumbu Karang ini?
A. MANFAAT EKOLOGI
1. Penunjang Kehidupan
Oleh
karena terumbu karang merupakan suatu ekosistem, maka ia menunjang kehidupan
berbagai jenis makhluk hidup yang ada di sekitar terumbu karang. Dengan
adanya terumbu karang maka tumbuhan dan hewan laut lainnya dapat tinggal,
mencari makan dan berkembang biak di terumbu karang.
Contohnya
hewan-hewan laut seperti lili laut, kerang, cacing, dan tumbuhan alga dapat
menempel pada koloni karang keras. Ikan-ikan dapat mencari makan dan
bersembunyi dari incaran hewan pemangsa di balik koloni karang keras.
2. Mengandung Keanekaragaman Hayati yang Tinggi
Jika
hutan hujan tropis memiliki biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem
lainnya dalam tingkatan spesies, terumbu karang memiliki biodiversitas
tertinggi dalam tingkatan filum. Terumbu karang juga merupakan
ekosistem dengan biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem pesisir dan
laut lainnya, dalam unit skala tertentu. Artinya dalam luas 1 km2 di wilayah terumbu karang
mengandung lebih banyak spesies dibandingkan dengan 1 km2 di wilayah laut dalam.
Terumbu
karang di Indonesia terkenal dengan kekayaan dari biodiversitasnya. Dari
sekitar 800 spesies karang keras yang berhasil diidentifikasi di dunia, sekitar
450 di antaranya ditemukan di Indonesia. Spesies ikan karang
Indonesia sendiri mencapai lebih dari 2.400 spesies.
Mengapa
biodiversitas menjadi penting? Dengan memiliki biodiversitas yang tinggi,
maka itu akan menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesies. Dengan
adanya keanekaragaman genetik yang tinggi maka akan ditemukan banyak variasi
dalam makhluk hidup sehingga tingkat ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan
bertahan hidup suatu makhluk hidup dapat menjadi lebih tinggi. Selain itu
dengan begitu banyaknya spesies maka akan dapat dimanfaatkan untuk sebagai
sumber pangan dan obat-obatan.
3. Pelindung Wilayah Pantai
Terumbu
karang, padang lamun dan hutan bakau merupakan ekosistem yang saling
berhubungan. Terumbu karang-lah yang pertama kali menghalau ombak besar
dari laut, agar tidak merusak daratan. Kemudian ombak tiba di padang
lamun maka energinya akan diperkecil lagi oleh daun-daun tumbuhan lamun.
Ketika ombak tiba di dekat pantai, maka akar dan batang pohon-pohon mangrove
akan memperkecil lagi energi ombak, sehingga ombak tidak merusak pantai.
Dengan demikian kehidupan di sekitar pantai akan terlindung. Terumbu
karang bermanfaat dalam menghalangi pengikisan akibat energi ombak dan arus,
sehingga masalah abrasi pantai akan lebih mudah diatasi.
4. Mengurangi Pemanasan Global
Mungkin
kita telah mengetahui bahwa hutan hujan tropis merupakan “paru-paru dunia”
dimana menyerap gas CO2 hasil
pembakaran sehingga mengurangi pemanasan pada bumi. Terumbu karang pun
dinilai memiliki peran yang sama, karena gas CO2 juga banyak diserap oleh air laut, dan
selanjutnya melalui reaksi kimia dan bantuan karang, akan diubah menjadi zat
kapur yang menjadi bahan baku terumbu (Muller-Parker & D’Elia, 1997).
Dalam proses yang disebut kalsifikasi ini, karang juga dibantu oleh
zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di dalam jaringan tubuh
karang). Bagaimana hal itu dapat terjadi akan diterangkan di bagian
Biologi Karang.
B. MANFAAT EKONOMI
1. Sumber Makanan
Di
terumbu karang kita dapat menemui banyak sekali jenis tumbuhan dan hewan laut
yang dapat kita manfaatkan sebagai sumber makanan. Contohnya alga atau
rumput laut yang dapat kita jadikan agar-agar. Selain itu berbagai jenis
ikan, udang, kepiting, dan teripang merupakan sumber protein. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat dapat
diperoleh sekitar 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan sekitar 1.200
orang setiap tahunnya (Burke dkk., 2002). Cesar (1996) menyebutkan
5 – 10 % hasil perikanan laut berasal dari terumbu karang.
2.
Sumber Bahan Dasar Untuk Obat-obatan dan Kosmetika
Beberapa
jenis dari alga atau rumput laut, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk
keperluan kosmetik (dijadikan sabun), dan juga untuk membalut kapsul
obat. Selain itu hewan laut seperti spon dan tunicata (Ascidian) yang ada
di terumbu karang, diketahui memiliki senyawa kimia yang berguna untuk bahan
antibiotika, anti radang, dan anti kanker. Namun demikian, masih banyak
potensi biota laut bagi industri obat dan bahan kimia, yang belum digali.
3. Sebagai Objek Wisata
Terumbu
karang juga memiliki keindahan karena adanya berbagai jenis karang, ikan, lili
laut, teripang, kerang-kerangan, siput laut, dan lain sebagainya, yang membuat
takjub para wisatawan. Terumbu karang dapat menjadi objek wisata melalui
kegiatan snorkeling, menyelam, ataupun hanya melihat keindahannya dari atas
kapal yang dilengkapi kaca pada lantainya (glass bottom boat).
4. Sebagai Sumber Mata Pencaharian
Adanya
terumbu karang dapat menunjang perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Masyarakat memiliki lapangan pekerjaan sebagai nelayan. Apabila terumbu karang dikembangkan menjadi suatu objek wisata yang mengundang banyak turis,
maka masyarakat dapat menjadi menjadi pemandu wisata, membuka usaha warung
makanan, menyewakan penginapan, menyewakan kapal, menjual cenderamata ke turis,
dan lain sebagainya.
5. Sebagai Sumber Bibit Budidaya
Berbagai
jenis ikan, teripang dan rumput laut, yang ada di terumbu karang, dapat
dijadikan bibit untuk usaha budidaya. Contohnya ikan kerapu, ikan kakap,
rumput laut dari Marga Eucheuma dan Gracilaria, dan teripang dari Marga Holothuria.
Berdasarkan
Riopelle (1995) (lihat Cesar (1996) , yang mengkalkulasi
nilai ekonomi dari 1 km2 terumbu
karang di wilayah Lombok Barat, dimana terumbu karangnya dimanfaatkan secara
optimal (tidak saja untuk sumber perikanan dan pelindung pantai, namun juga
untuk kegiatan wisata), sehingga diperkirakan 1 km2 terumbu karang di Lombok Barat
bernilai sekitar US $ 1 juta.
C. MANFAAT
SOSIAL
1. Menunjang Kegiatan Pendidikan dan Penelitian
Terumbu
karang dapat menjadi sarana yang ideal bagi kegiatan pendidikan untuk mengenal
ekosistem pesisir, mengenal tumbuhan dan hewan laut, dan pendidikan cinta alam.
Antara lain karena terumbu karang ada di perairan yang dangkal, sehingga mudah
dijangkau, dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga banyak
biota laut yang dapat kita amati.
Selain
itu terumbu karang juga berperan sebagai sarana penelitian. Untuk
melindungi terumbu karang dan biota laut yang hidup di dalamnya, serta untuk
dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan di terumbu karang, maka perlu adanya
berbagai jenis penelitian. Apabila kita ingin mejaga kelestarian terumbu
karang, maka kita perlu meneliti faktor apa saja yang dapat mengancam
kelestariannya, dan bagaimana memulihkan terumbu karang yang terganggu,
sehingga kita dapat melakukan upaya-upaya yang diperlukan. Demikian pula
apabila kita ingin melindungi satu jenis spesies di terumbu karang maka kita
perlu meneliti cara hidup spesies tersebut, apa saja yang dimakannya, bagaimana
cara berkembang biaknya, dan lain sebagainya.
2. Sebagai Sarana Rekreasi Masyarakat
Terumbu
karang dengan segala keindahannya dapat dijadikan sarana rekreasi keluarga
untuk melakukan aktivitas renang, dan lain sebagainya.
D. MANFAAT BERKELANJUTAN:
1. Perikanan
lepas pantai. Berbagai sumberdaya ikan pelangis (misal. Scombridae,
Exocoetidae, Carangidae, Characharinidae) bergantung pada ekosistem terumbu
karang, baik sebagai lokasi memijah, membesarkan anak, dan makan.
2. Perikanan
terumbu. Empat kelompok sumber daya ikan terumbu yang penting bagi
nelayan:
·
Ikan, misal. Muraenidaem Serranidae,
Holocentridae, Lutjanidae, dll
·
Avertebrata, misal. Gastropoda, Bivalva,
Crustasea, Cephalopoda, Echinodermata, Coelenterata
·
Reptil, misal. Ular laut dan penyu
·
Makrofita, misal. Alga dan lamun
·
Perlindungan pantai dan pulau kecil
·
Wisata bahari
·
Marikultur
·
Bioteknologi
·
Perdagangan biota ornamental
·
Wilayah perlindungan
·
Penambangan pasir karang
·
Kerajinan souvenir
·
Penelitian dan pendidikan
3. Manfaat
terumbu karang sebagai daerah tangkap ikan (fishing ground) nelayan tradisional
E. MANFAAT YANG TIDAK BERKELANJUTAN
·
Aktivitas ekstratif
·
Perikanan dengan metode destruktif
·
Pengumpulan organism terumbu
·
Perdagangan biota ornamental
·
Pembangunan persisir
·
Manfaat terumbu karang dapat berkurang atau
bahkan musnah apabila di wilayah pesisir terdapat aktivitas pembangunan yang
tidak ramah lingkungan
·
Peranan terumbu karang terhadap sistem
perikanan. Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling produktif dan
tinggi keanekaragaman hayatinya.
·
Produktivitas primer yang tinggi dan
kompleksnya habitat yang terdapat di ekosistem terumbu karang memungkinkan
daerah ini berperan sebagai tempat pemijahan, tempat pengasuhan dan tempat
mencari makan berbagai spesies ikan dan biota laut lainnya. Dengan demikian,
secara otomatis produksi sekunder (ikan dan biota laut lain) di daerah terumbu
karang juga sangat tinggi.
·
Komunitas ikan di ekosistem terumbu karang
terdapat dalam jumlah yang besar dan terlihat mengisi seluruh daerah di
terumbu, sehingga dapat dilakukan bahwa ikan merupakan penyokong berbagai macam
hubungan yang ada dalam ekosistem terumbu. Tingginya keanekaragaman jenis dan
kelimpahan komunitas ikan di ekosistem.
Dan apa sih Fungsi Ekosistem Terumbu
Karang ini?
Terumbu karang merupakan sumber daya
yang memiliki nilai konservasi tinggi karena memiliki keanekaragaman biologis
yang tinggi, keindahan dan menyediakan cadangan sumber plasma nutfah. Nilai ekonomi
terumbu karang diperkirakan setengah dari nilai ekonomi hutan tropik basah.
Karena memiliki nilai estetika tinggi, terumbu karang dapat menunjang kegiatan
pariwisata di wilayah pesisir laut. Diperkirakan ekosistem terumbu karang yang
ada di Indonesia memiliki keanekaragaman spesies sebanyak 335-362 spesies
karang Scleractinia dan 263 spesies ikan hias laut. Hal ini menjadikan terumbu
karang sebagai modal utama dalam pengembangan wisata bahari di Indonesia.
Fungsi lain dari terumbu karang:
1. Tempat tinggal, berkembang biak dan
mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang menjadi tumpuan kita.
2. Sumberdaya laut yang mempunyai
potensi ekonomi yang sangat tinggi.
3. Sebagai laboratorium alam untuk
penunjang pendidikan dan penelitian.
4. Terumbu karang merupakan habitat
bagi sejumlah spesies yang terancam punah seperti kima raksasa dan penyu laut.
5. Dari segi fisik terumbu karang
berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang
keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan
mencegah rusaknya ekosistem pantai lain seperti padang lamun dan mangrove.
6. Terumbu karang merupakan sumber
perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di
Indonesia, 32 jenis di antaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan
karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3-10 ton
ikan per kometer persegi pertahun.
7. Keindahan terumbu karang sangat
potensial untuk wisata bahari. Masyarakat di sekitar terumbu karang dapat
memanfaatkan hal ini dengan mendirikan pusat-pusat penyelaman, restoran,
penginapan sehingga pendapatan mereka bertambah.
Bagaimana Keadaan
Terumbu Karang Dunia saat ini?
Telah sering disebut bahwa ekosistem terumbu karang memiliki
arti yang amat penting bagi kehidupan manusia, baik dari segi ekonomi maupun
sebagai penunjang kegiatan rekreasi karena keindahannya. Terumbu karang
tersebar di seluruh dunia dan mencakup lebih dari 100 negara, termasuk
Indonesia, dengan luas diperkirakan mencapai 600.000 km2. Mulai dekade 1990-an,
para ahli mulai mengangkat isu tentang semakin memburuknya kondisi terumbu
karang dunia, antara lain Indonesia. Saat ini diperkirakan 10 persen dari
terumbu karang dunia dalam kondisi sangat rusak dan bahkan kemungkinan tidak
dapat dipulihkan kembali. Dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, apabila tidak
ada upaya pelestarian yang intensif, maka diperkirakan 30 persen dari terumbu
karang yang ada akan mengalami nasib yang sama.
Kegiatan manusia merupakan penyebab terbesar menurunnya kondisi
ekosistem terumbu karang dunia. Semakin cepat pertumbuhan penduduk dunia,
semakin padat pula pemukiman di daerah pesisir, maka semakin terancam pula
keberadaan ekosistem terumbu karang beserta sumber daya laut lainnya.
Ekploitasi sumber daya ekosistem terumbu karang di berbagai
negara telah diperburuk oleh banyaknya sumber daya yang terbuang sia-sia karena
cara penangkapan ikan secara merusak.
Pencemaran dan pesatnya pembangunan di daerah pesisir dan
laut semakin mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang. Selain itu,
bencana alam selain badai, gempa bumi dan efek dari El Niño telah mengakibatkan
rusak parahnya ekosistem terumbu karang di berbagai Negara dengan ditandai oleh
matinya berbagai jenis karang batu.
Dan Bagaimana
Keadaan Terumbu Karang di Indonesia saat ini?
Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, hampir sepertiga kondisi
terumbu karang di Indonesia mengalami
kerusakan atau kurang baik. Meskipun kondisi ini telah mengalami tren membaik
dalam sepuluh tahun terakhir.
Sebanyak
30,4 persen dari total luas terumbu karang yang dimiliki oleh Indonesia berada
dalam kondisi rusak atau tidak baik. Hanya sebesar 2,59 persen dan 27,14 persen
yang dalam kondisi sangat baik dan baik. Selebihnya, 37,18 persen dalam kondisi
kurang baik.
Terumbu
karang (coral reef)
Indonesia merupakan yang terkaya di dunia. Luas terumbu karang di Indonesia ini
mencapai 2,5 juta hektar. Selain luas, terumbu karang Indonesia pun memiliki keanekaragaman
hayati tertinggi
di dunia. Sedikitnya 750 jenis karang yang termasuk ke dalam 75 marga terdapat
di Indonesia.
Sayangnya,
kekayaan ini nyaris hilang. Berbagai survei mencatat tingkat kerusakanterumbu karang Indonesia yang sangat
memprihatinkan. Survei terbaru dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI). Dengan melakukan pengamatan di 1.135 stasiun, hingga 2013,
tercatat 5,29 persen dalam kondisi sangat baik, sebesar 27,14 persen masih
dalam kondisi baik, dan sebesar 37,18 persen dalam kondisi cukup. Sisanya
sebesar 30,4 persen dalam kondisi tidak baik.
Kerusakan
terparah salah satunya adalah di teluk Jakarta. Persentase terumbu karang yang
baik di teluk Jakarta tidak mencapai dua persen. Data ini dirilis oleh LIPI dalam diskusi media
bertajuk “Riset Ekosistem Terumbu Karang di Indonesia” yang berlangsung di
Media Center LIPI, Jakarta, Kamis, 17 April 2014.
Faktor-faktor
apa saja sih yang menyebabkan Rusaknya Ekosistem Terumbu Karang ini?
1.
FAKTOR DARI ALAM
Bencana
alam dan kejadian lainnya yang terjadi secara alamiah dapat merusak terumbu
karang. Di bawah ini tercantum hal-hal yang dapat merusak terumbu karang
yang terjadi secara alamiah, antara lain ialah:
·
Gempa bumi berakibat memporak-porandakan
terumbu karang
·
Badai di laut seperti halnya tsunami
berakibat menghancurkan terumbu karang
·
Kenaikan suhu air laut dan kenaikan permukaan
air laut pada tahap tertentu dapat mematikan karang
·
Penyakit antara lain akibat infeksi oleh
bakteri berakibat mematikan karang
·
Serangan hewan pemangsa (Bulu Seribu)
berakibat mematikan karang
2.
FAKTOR DARI KEGIATAN MANUSIA
a. Penangkapan Ikan Dan Biota Laut Lainnya Dengan Cara
Yang Merusak
Contohnya
menangkap ikan dan hasil laut lainnya dengan menggunakan bom dan racun potasium
sianida. Bom yang dilemparkan di terumbu karang akan menghancurkan koloni
karang dan biota laut lainnya di sekitar terumbu karang. Menuang racun di
sekitar terumbu karang untuk menangkap ikan hias juga akan mematikan karang dan
biota laut lainnya. Terumbu karang adalah rumah bagi tumbuhan dan hewan laut,
termasuk ikan-ikan. Jika terumbu karang hancur maka ikan-ikan akan sulit
ditemukan.
b. Pengambilan Biota Laut Untuk Diperdagangkan
Pengambilan
karang untuk diperdagangkan akan sangat merusak terumbu karang. Jika
karang tidak ada maka terumbu karang tidak akan terbentuk. Pengambilan
biota laut di terumbu karang, seperti kima yang menempel pada koloni karang
juga akan merusak terumbu karang. Oleh karena ketika mengambil biota laut
mereka menginjak-injak dan mencongkel karang. Pengambilan biota laut
secara berlebihan juga dapat mengganggu keseimbangan jaring-jaring makanan di
terumbu karang.
Contohnya
jika kita banyak mengambil keong triton (Charonia
tritonis), yakni sejenis keong laut yang ukurannya besar, untuk
cenderamata, maka akan terjadi gangguan. Keong laut ini memakan Bulu
Seribu, maka jika ia habis diambil, maka Bulu Seribu tidak mempunyai pemangsa,
maka jumlah Bulu Seribu menjadi banyak dan ini merugikan, karena Bulu Seribu
memangsa karang.
c. Pembuangan Sampah Ke Laut
Sampah
yang dibuang dari tepi pantai, ataupun dari tengah laut (dari atas kapal
misalnya), akan mencemari perairan laut, termasuk perairan di sekitar terumbu
karang. Sampah plastik dapat membunuh hewan-hewan laut, seperti Penyu
Sisik, karena Penyu Sisik akan mengira sampah plastik sebagai makanannya, yakni
ubur-ubur, sehingga sampah itu ditelannya dan mengakibatkan kematian.
Sampah
juga akan mematikan karang, karena sampah menutupi dan menempel pada koloni karang
keras, sehingga zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di jaringan
tubuh si hewan karang) tidak dapat berfotosintesis, sehingga zooxanthellae
dapat mati dan akhirnya si hewan karang juga dapat mati. Selain itu
sampah juga akan membuat lingkungan di sekitar laut menjadi buruk dan kotor.
d. Kegiatan Wisata Yang Tidak Memperdulikan Lingkungan
Kegiatan
wisata baik itu berupa kegiatan jalan-jalan di pantai, berenang, snorkeling,
ataupun menyelam di terumbu karang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat
merusak terumbu karang. Wisatawan akan membuang sampah tidak pada
tempatnya. Mereka juga dapat menginjak-injak, menyentuh, membunuh,
ataupun dan mengambil karang dan biota laut lainnya.
e. Pencemaran Dari Darat Ke Laut
Pencemaran
dari darat dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir. Sungai dari darat
yang mengalir hingga ke muara dan berakhir di laut dapat membawa limbah (zat
pencemar). Secara umum limbah dapat dikategorikan menjadi limbah padat
(yakni sampah plastik, kaleng, dll.), dan limbah cair (pupuk kimia, zat racun
dari industri, dll.). Pupuk kimia merupakan makanan bagi Bulu Seribu yang
masih kecil, sehingga ketika ada banyak pupuk kimia mengalir ke laut, maka
jumlah Bulu Seribu akan menjadi banyak dan menjadi hama yang akan memakan karang.
f. Sedimentasi Dari Darat
Masuknya
sedimen, sering disebut sebagai sedimentasi, yang biasanya dari arah darat ke
laut, dapat merusak terumbu karang. Sedimen seperti lumpur yang datang
dari darat akan membuat perairan di sekitar terumbu karang menjadi keruh.
Akibatnya zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuh polip karang akan
sulit untuk berfotosintesis, dan dapat mati, akhirnya karang juga dapat mati.
g. Pembangunan Di Wilayah Pesisir (Tepi Pantai)
Mengapa
pembangunan di wilayah pesisir dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir dan
laut? Oleh karena pembangunan di wilayah pesisir, seperti pembangunan
pusat perbelanjaan dan pembangunan pemukiman, menghasilkan sedimen (adanya
tanah, semen dan lumpur) yang akan mencemari perairan di sekitar terumbu karang.
Selain itu sampah yang dihasilkan dari pusat perbelanjaan dan pemukiman yang
tidak dikelola dengan baik, juga akan mencemari wilayah terumbu karang.
Pembangunan
di wilayah pesisir juga akan mengurangi areal lahan mangrove. Mata rantai
antara ekosistem hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang dapat
terputus. Hutan bakau dan padang lamun berjasa besar dalam mencegah
pencemaran dari darat ke laut.
Apa
Dampak dari Kerusakan Terumbu Karang ini?
Kegiatan
penambangan, penangkapan ikan dengan racun, membuang sampah di laut, dan
kegiatan-kegiatan lain yang dapat merusak terumbu karang, pada akhirnya akan
berdampak pada ekosistem laut dan masyarakat itu sendiri.
1. Bagi ekosistem laut dan pantai
Terumbu
karang menjadi tempat bagi hewan dan tanaman yang berkumpul untuk mencari
makan, berkembang biak, membesarkan anaknya, dan berlindung. Jika terumbu
karang mengalami kerusakan daya perlindungan dan suplay makanan yang dihasilkan
akan mengalami penurunan. Akibatnya bagi hewan dan tumbuhan yang tergantung
padanya, mengalami gangguan. Ikan-ikan menjadi kurang sehat karena makanan
mereka kurang.
Terumbu
karang memiliki kemampuan untuk memproduksi oksigen sama seperti fungsi hutan
di daratan, sehingga menjadi habitat yang nyaman bagi biota laut. Jika terumbu
karang mengalami kerusakan maka suplay oksigen dari terumbu karang yang
dibutuhkan oleh biota laut mengalami penurunan.
Terumbu
karang berfungsi untuk menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah
terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. Jika terumbu karang mengalami
kerusakan maka kemampuan terumbu karang dalam menahan dan memecah energi
gelombang laut akan berkurang. Akibatnya energi gelombang laut yang datang
masih cukup besar dan dapat menyebabkan kerusakan di sekitar pantai (abrasi).
2. Bagi masyarakat
Terumbu
karang yang bagus akan menarik minat wisatawan pada kegiatan diving, karena
variasi terumbu karang yang berwarna-warni dan bentuk yang memikat merupakan
atraksi tersendiri bagi wisatawan baik asing maupun domestik. Hal ini merupakan
salah satu sumber pengahasilan warga sekitar, jika terumbu karang rusak maka
sudah tidak menarik lagi bagi para wisatawan untuk berkunjung dan berwisata ke
daerah tersebut. Maka penghasilan warga yang di dapat dari para wisatawan akan
menurun.
Penelitian
akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang
lebih baik. Selain itu, masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta
zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui
manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahuinya.
Terumbu karang yang rusak tidak akan menjadi tempat biota laut untuk
berlindung, berkembang biak dan mencari makan. Akibatnya, kegiatan penelitian
tidak lagi dapat dilakukan.
Apa
Upaya Pelestarian Terumbu Karang dari Pemerintah Wilayah Indonesia?
Untuk dapat melestarikan terumbu
karang, perlu dilakukan upaya-upaya pengelolaan terumbu karang agar tetap
lestari. Upaya tersebut antara lain:
1. Diterbitkannya
peraturan-peraturan yang berkaitan dengan terumbu karang
Peraturan tentang terumbu karang
terdapat pada Undang-Undang Lingkungan Hidup No.23 tahun 1997. Dimana setiap
orang secara pasif wajib mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan;
dan secara aktif wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004
tentang Perikanan telah menetapkan berbagai upaya dalam menjaga keberlanjutan
sumberdaya perikanan. Terumbu karang adalah salah satu sumberdaya perikanan di
Indonesia.
Undang-Undang menetapkan bahwa
setiap orang memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau
pengrusakkan terhadap sumberdaya perikanan serta lingkungannya. Selain dengan
pendekatan pencegahan, keberlanjutan sumberdaya juga perlu dilakukan melalui
upaya konservasi dari tingkat ekosistem, jenis, maupun genetik terhadap
sumberdaya ikan.
Oleh karena Undang-Undang Perikanan
tidak secara khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu karang, maka
diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38/Men/2004 tentang
Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini
diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan secara seimbang antara
pemanfaatan dan pelestarian. Demikian pula secara sinergis direncanakan dan dilaksanakan
oleh masyarakat, pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga
non-pemerintah.
Untuk mencapai harapan di atas, Pemerintah menetapkan 9 strategi
yang mencakup:
Strategi 1 : Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak
langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem terumbu karang
Strategi 2 : Mengurangi laju
degradasi terumbu karang
Strategi 3 : Mengelola terumbu karang berdasarkan
karakteristik ekosistem, potensi, tata ruang wilayah, pemanfaatan, status
hukum, dan kearifan masyarakat pesisir
Strategi 4 : Merumuskan dan
mengkoordinasikan program-program instansi pemerintah, pemerintah provinsi,
pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, dan masyarakat yang diperlukan dalam
pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat
Strategi 5 : Menciptakan dan
memperkuat komitmen, kapasitas, dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola
ekosistem terumbu karang
Strategi 6 : Mengembangkan, menjaga
serta meningkatkan dukungan masyarakat luas dalam upaya-upaya pengelolaan ekosistem
terumbu karang secara nasional dengan meningkatkan kesadaran seluruh lapisan
masyarakat mengenai arti penting nilai ekonomis dan ekologis dari terumbu
karang
Strategi 7 : Menyempurnakan berbagai peraturan
perundang-undangan serta mendefinisikan kembali kriteria keberhasilan
pembangunan suatu wilayah agar lebih relevan dengan upaya pelestarian
lingkungan ekosistem terumbu karang
Strategi 8 : Meningkatkan dan memperluas kemitraan
antara pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, swasta, LSM,
dan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan dalam
rangka pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara berkelanjutan
Strategi 9 : Meningkatkan dan
mempertegas komitmen pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota,
dan masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri dalam
penyediaan dana untuk mengelola ekosistem terumbu karang
2. Upaya
pelestarian dan rehabilitasi terumbu karang
Berikut beberapa upaya pelestarian
dan rehabilitasi terumbu karang yang sudah dilakukan di wilayah perairan
Indonesia.
Ø Pembentukan taman nasional laut
sebagai kawasan konservasi, untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang
ada. Contohnya Taman Nasional Laut Bunaken, Taman Nasional Laut Wakatobi,
dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Ø Penetapan DPL (Daerah Perlindungan
Laut) / APL (Area Perlindungan Laut) / KPL (Kawasan Perlindungan Laut) untuk
melindungi sumberdaya perikanan beserta ekosistemnya dari ancaman
kerusakan. DPL/APL/KPL ini sebaiknya berbasis masyarakat sehingga
masyarakat dapat ikut memantau dan mengelolanya.
Ø Upaya rehabilitasi terumbu karang
melalui perlindungan area terumbu karang yang rusak untuk upaya
pemulihan. Suatu area terumbu karang yang mengalami kerusakan namun masih
berpotensi untuk dipulihkan, maka dilakukan upaya perlindungan area tersebut
dengan menutup area itu sementara dari aktivitas perikanan, untuk membiarkannya
pulih kembali.
Ø Upaya rehabilitasi terumbu karang
melalui transplantasi karang. Transplantasi karang ialah sebuah upaya
perbanyakan karang dengan menggunakan kemampuan regenerasi karang secara
aseksual. Namun demikian belum diketahui seberapa efektif upaya ini
karena kegiatan transplantasi karang masih terbatas dilakukan pada jenis-jenis
karang tertentu saja dan tingkat keberhasilannya masih sangat tergantung dari
lingkungan perairan di sekitarnya (masih sangat bergantung pada alam).
Ø Upaya rehabilitasi terumbu karang
melalui penyediaan substrat keras untuk tempat menempel larva
karang. Upaya ini terdiri dari peletakan substrat keras dari bahan kapur
ke dasar laut dan membiarkan larva karang menempel dan hidup serta
berkembang. Selain itu ada juga yang memfasilitasi pembentukan zat kapur
dari reaksi kimia melalui pemberian listrik di perairan laut, sehingga terbentuk
substrat keras sebagai tempat larva karang untuk menempel.
Ø Kegiatan pendidikan, pelatihan,
kampanye, maupun penyadaran kepada berbagai pihak tentang pentingnya
melestarikan ekosistem pesisir, juga menjadi bagian dari upaya pelestarian
terumbu karang.
Lalu,
Upaya apa yang dapat kita lakukan sebagai Masyarakat?
A. SEBELUM ANDA MERENCANAKAN UNTUK MENGEKSPLORASI KARANG
1. Untuk memilih tempat
berlibur, pilihlah tempat atau hotel yang ramah lingkungan; yakni tempat-tempat
yang senantiasa melihat pentingya akan konservasi, mendaur ulang limbahnya,
mengolah sampah padatnya dengan cara-cara yang bertanggung jawab.
2. Bayarlah iuran atau
berikan sumbangan untuk mendukung pengelolaan bila hendak memasuki wilayah
karang atau wilayah-wilayah konservasi lainnya.
3. Dapatkan instruksi
snorkeling sebaik mungkin.
4. Pastikan anda melatih
ilmu snorkeling jauh dari daerah karang.
5. Pastikan peralatan
anda harus pas betul sebelum melakukan snorkeling dekat karang akan
sangat sulit sekali menyesuaikan diri di dalam air.
6. Bila anda merasa kurang
yakin, atau anda merasa belum menjadi seorang snorkler yang berpengalaman,
gunakan pemberat sebagai untuk membantu menjaga keseimbangan.
7. Pelajari secara
seksama mengenai seluk-beluk terumbu karang – terumbu karang sangat menarik
namun perlu disadari bahwa terumbu karang merupakan sebuah lingkungan yang
mudah rusak juga.
B. DI DALAM AIR
1. Jangan pernah
menyentuh karang-karang; meskipun hendak memegangnya secara perlahan. Ada
beberapa jenis karang yang dapat menusuk bahkan melukai anda.
2. Pilihlah tempat jalan
masuk maupun jalan keluar untuk mengindari berjalan di atas karang.
3. Menjaga jarak
yang aman dengan karang sehingga mampu menghindari sentuhan dengan
karang.
4. Ketahui dengan benar
dimana posisi penyeimbang anda dan upayakan jangan sampai menyentuh pasir.
5. Tetaplah pada
posisi datar di dalam air ketika anda berada dekat atau di
atas karang.
6. Belajarlah berenang
tanpa menggunakan kedua tangan terlebih dahulu.
7. Bergerak secara
perlahan – lahan dan dengan hati – hati di dalam air, santai saat
anda berenang dan manfaatkan waktu anda dengan baik. Ingat, waktu anda di
dalam air cukup mengamati saja tetapi jangan pernah menyentuh.
C. MEMPERKECIL KONTAK DENGAN KEHIDUPAN LAUT
1. Jangan membawa makhluk
yang masih hidup ataupun yang sudah mati keluar dari air terkecuali kotoran-
kotoran yang tidak terdapat organisme hidup dalam kotoran tersebut.
2. Jangan pernah mengusir
atau mencoba mengendalikan kehidupan laut.
3. Jangan pernah
menyentuh, menangani atau memberi makan kehidupan laut kecuali
dibawah bimbingan pakar, dan patuhilah semua petunjuk yang telah
dibuat secara lokal.
4. Hindari penggunaan
kaos tangan di dalam lingkungan karang.
D. DI ATAS KAPAL
1. Pilihlah usaha
snorkeling yang kapalnya menggunakan tempat penambatan tali (mooring)
yang benar – jangkar dan rantai tidak merusak karang-karang yang mudah hancur.
2. Pastikan bahwa
sampah-sampahnya disimpan dengan baik, khususnya sampah-sampah plastik.
3. Pastikan bahwa
benda-benda yang anda bawa seperti kardus, baterai yang sudah terpakai serta
botol-botol minuman dibawa turun dari kapal untuk di buang dengan benar.
4. Bantulah taman-taman karang maupun upaya-upaya konservasi lainnya dengan:
5. Mengunjungi
taman-taman karang yang telah ditetapkan serta membayar uang iuran masuk untuk
mendukung kegiatan konservasi kelautan.
6. Dukung dan bantu
penggunaan tempat penambatan kapal.
7. Berpartisipasi dalam
kegiatan yang diprakarsai masyarakat setempat dalam memonitor lingkungan
laut. Berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan.
8. Bekerja sebagai
relawan dalam mendukung taman karang. Misalnya, anda dapat turut serta dalam
survey terumbu karang, melakukan program penjangkauan, atau memberikan
pendidikan bagi mereka yang membutuhkan mengenai pelestarian terumbu karang.
9. Menyumbangkan
alat-alat seperti kamera, peralatan selam atau buku identifikasi terumbu karang.
10. Hindari pembelian
cindera mata yang terbuat dari karang, penyu maupun hewan-hewan laut lainnya –
karena hal ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilegal, dan dianggap tidak
ramah terhadap lingkungan.
11. Suarakan dengan
lantang. Pastikan bahwa orang-orang yang melakukan snorkeling tersebut paham
hal-hal sederhana namun penting dalam latihan pelestarian lingkungan.
DAFTAR REFERENSI