Jumat, 14 Agustus 2015

BAGAIMANAKAH DUNIA TANPA TERUMBU KARANG?

 BAGAIMANAKAH DUNIA TANPA TERUMBU KARANG?

Apa itu Terumbu Karang?

Terumbu karang merupakan ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­-jenis moluska, Crustasea, Echinodermata, Polichaeta, Porifera, dan Tunicata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis nekton.
Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks dan produktif dengan tujuan dengan keanekaragaman jenis biota sangat tinggi. Secara alami, terumbu karang merupakan habitat bagi banyak spesies laut untuk melakukan pemijahan, peneluran, pembesaran anak, makan dan mencari makan (feeding & foraging), terutama bagi sejumlah spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Banyaknya spesies makhluk hidup laut yang dapat ditemukan di terumbu karang menjadikan ekosistem ini sebagai gudang keanekaragaman hayati laut.
Secara umum terumbu karang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis, oleh karena itu karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti air yang jernih, dengan suhu antara 23-32 derajat celcius, dengan kedalaman karang dari 40 m. Salinitas yang optimum untuk pertumbuhan karang antara 32 – 36 % dengan pH 7,5 – 8,5.
Terumbu karang merupakan salah satu potensi sumber daya laut yang sangat penting di Indonesia. Sumber daya terumbu karang merupakan salah satu sumber pendapatan utama dan bagian dari hidup nelayan. Terumbu karang juga mempunyai nilai estetika sangat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata yang dapat meningkatkan devisa negara. Secara fisik karang melindungi pantai dari degradasi dan abrasi. 
Terumbu karang di Indonesia yang umum dijumpai adalah karang tepi (Fringing Reef), karang penghalang (Barrier Reef) dan karang cincin (Atoll). Karang tepi merupakan tipe karang yang paling umum dijumpai dan merupakan terumbu karang yang tumbuh di tepi pantai. Karang penghalang tumbuh sejajar dengan garis pantai dan dipisahkan oleh laut yang cukup dalam. Karang cincin merupakan tipe karang yang menyerupai cincin dengan goa di tengahnya.
Indonesia merupakan pusat sebaran dari jenis karang yang ada di dunia. Variasi bentuk pertumbuhan karang di Indonesia sangat kompleks dan luas, sehingga dapat dipakai sebagai tempat tumbuh bagi biota yang lain. Karang membentuk kerangka kapur yang terdiri dari CaCO3 dan di dalam polip karang terdapat zooxanthella yang merupakan symbion karang. Zooxanthella ini berupa algae bersel satu yang membantu dalam pembentukan kerangka kapur.
Pembentukan kapur ini sangat penting artinya dalam mengurangi jumlah karbon yang ada di udara. Karbon yang ada di udara akan diubah menjadi CaCO3. Para pakar telah menghitung kemampuan karang mengambil karbon yaitu 111 juta ton/tahun yang ekivalen dengan 2 % dari seluruh karbon yang ada.
Diramalkan bahwa pada 50-100 tahun yang akan datang karang dapat menyerap 4 % dari jumlah karbon (CO2) yang dilepas di udara, itu jika kondisi terumbu karang di dunia tidak mengalami kerusakan.
Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya.Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia. Contohnya adalah ekosistem terumbu karang di perairan Maluku dan Nusa Tenggara. Indonesia merupakan tempat bagi sekitar 1/8 dari terumbu karang Dunia dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. 
Jika habitat terumbu karang tidak diusik maka fungsinya akan optimal dan produksi ikan karang akan dapat dipanen secara berkesinambungan dan memberi keuntungan secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat di seluruh Indonesia untuk masa kini dan masa yang akan datang sejalan pembangunan nasional.



Apa sih Manfaat adanya Ekosistem Terumbu Karang ini?

A.  MANFAAT EKOLOGI
1.    Penunjang Kehidupan
Oleh karena terumbu karang merupakan suatu ekosistem, maka ia menunjang kehidupan berbagai jenis makhluk hidup yang ada di sekitar terumbu karang.  Dengan adanya terumbu karang maka tumbuhan dan hewan laut lainnya dapat tinggal, mencari makan dan berkembang biak di terumbu karang.
Contohnya hewan-hewan laut seperti lili laut, kerang, cacing, dan tumbuhan alga dapat menempel pada koloni karang keras.  Ikan-ikan dapat mencari makan dan bersembunyi dari incaran hewan pemangsa di balik koloni karang keras.

2.    Mengandung Keanekaragaman Hayati yang Tinggi
Jika hutan hujan tropis memiliki biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem lainnya dalam tingkatan spesies, terumbu karang memiliki biodiversitas tertinggi dalam tingkatan filum. Terumbu karang juga  merupakan ekosistem dengan biodiversitas tertinggi dibandingkan ekosistem pesisir dan laut lainnya, dalam unit skala tertentu.  Artinya dalam luas 1 km2 di wilayah terumbu karang mengandung lebih banyak spesies dibandingkan dengan 1 km2 di wilayah laut dalam.
Terumbu karang di Indonesia terkenal dengan kekayaan dari biodiversitasnya.  Dari sekitar 800 spesies karang keras yang berhasil diidentifikasi di dunia, sekitar 450 di antaranya ditemukan di Indonesia.  Spesies ikan karang  Indonesia sendiri mencapai lebih dari 2.400 spesies.
Mengapa biodiversitas menjadi penting?  Dengan memiliki biodiversitas yang tinggi, maka itu akan menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesies.  Dengan adanya keanekaragaman genetik yang tinggi maka akan ditemukan banyak variasi dalam makhluk hidup sehingga tingkat ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan bertahan hidup suatu makhluk hidup dapat menjadi lebih tinggi.  Selain itu dengan begitu banyaknya spesies maka akan dapat dimanfaatkan untuk sebagai sumber pangan dan obat-obatan.

3.    Pelindung Wilayah Pantai
Terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau merupakan ekosistem yang saling berhubungan.  Terumbu karang-lah yang pertama kali menghalau ombak besar dari laut, agar tidak merusak daratan.  Kemudian ombak tiba di padang lamun maka energinya akan diperkecil lagi oleh daun-daun tumbuhan lamun.  Ketika ombak tiba di dekat pantai, maka akar dan batang pohon-pohon mangrove akan memperkecil lagi energi ombak, sehingga ombak tidak merusak pantai.  Dengan demikian kehidupan di sekitar pantai akan terlindung.  Terumbu karang bermanfaat dalam menghalangi pengikisan akibat energi ombak dan arus, sehingga masalah abrasi pantai akan lebih mudah diatasi.

4.    Mengurangi Pemanasan Global
Mungkin kita telah mengetahui bahwa hutan hujan tropis merupakan “paru-paru dunia” dimana menyerap gas CO2 hasil pembakaran sehingga mengurangi pemanasan pada bumi.  Terumbu karang pun dinilai memiliki peran yang sama, karena gas CO2 juga banyak diserap oleh air laut, dan selanjutnya melalui reaksi kimia dan bantuan karang, akan diubah menjadi zat kapur yang menjadi bahan baku terumbu (Muller-Parker & D’Elia, 1997).  Dalam proses yang disebut kalsifikasi ini, karang juga dibantu oleh zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di dalam jaringan tubuh karang).  Bagaimana hal itu dapat terjadi akan diterangkan di bagian Biologi Karang.


B.  MANFAAT EKONOMI
1.    Sumber Makanan
Di terumbu karang kita dapat menemui banyak sekali jenis tumbuhan dan hewan laut yang dapat kita manfaatkan sebagai sumber makanan.  Contohnya alga atau rumput laut yang dapat kita jadikan agar-agar.  Selain itu berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan teripang merupakan sumber protein.  Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat dapat diperoleh sekitar 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan sekitar 1.200 orang setiap tahunnya (Burke dkk., 2002).  Cesar (1996) menyebutkan 5 – 10 % hasil perikanan laut berasal dari terumbu karang.
2.    Sumber Bahan Dasar Untuk Obat-obatan dan Kosmetika
Beberapa jenis dari alga atau rumput laut, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk keperluan kosmetik (dijadikan sabun), dan juga untuk membalut kapsul obat.  Selain itu hewan laut seperti spon dan tunicata (Ascidian) yang ada di terumbu karang, diketahui memiliki senyawa kimia yang berguna untuk bahan antibiotika, anti radang, dan anti kanker.  Namun demikian, masih banyak potensi biota laut bagi industri obat dan bahan kimia, yang belum digali.

3.    Sebagai Objek Wisata
Terumbu karang juga memiliki keindahan karena adanya berbagai jenis karang, ikan, lili laut, teripang, kerang-kerangan, siput laut, dan lain sebagainya, yang membuat takjub para wisatawan. Terumbu karang dapat menjadi objek wisata melalui kegiatan snorkeling, menyelam, ataupun hanya melihat keindahannya dari atas kapal yang dilengkapi kaca pada lantainya (glass bottom boat).

4.    Sebagai Sumber Mata Pencaharian
Adanya terumbu karang dapat menunjang perekonomian masyarakat di sekitarnya.  Masyarakat memiliki lapangan pekerjaan sebagai nelayan. Apabila terumbu karang dikembangkan menjadi suatu objek wisata yang mengundang banyak turis, maka masyarakat dapat menjadi menjadi pemandu wisata, membuka usaha warung makanan, menyewakan penginapan, menyewakan kapal, menjual cenderamata ke turis, dan lain sebagainya.

5.    Sebagai Sumber Bibit Budidaya
Berbagai jenis ikan, teripang dan rumput laut, yang ada di terumbu karang, dapat dijadikan bibit untuk usaha budidaya.  Contohnya ikan kerapu, ikan kakap, rumput laut dari Marga Eucheuma dan Gracilaria, dan teripang dari Marga Holothuria.
Berdasarkan Riopelle (1995) (lihat Cesar (1996) , yang mengkalkulasi nilai ekonomi dari 1 km2 terumbu karang di wilayah Lombok Barat, dimana terumbu karangnya dimanfaatkan secara optimal (tidak saja untuk sumber perikanan dan pelindung pantai, namun juga untuk kegiatan wisata), sehingga diperkirakan 1 km2 terumbu karang di Lombok Barat bernilai sekitar US $ 1 juta.


C.  MANFAAT SOSIAL
1.    Menunjang Kegiatan Pendidikan dan Penelitian
Terumbu karang dapat menjadi sarana yang ideal bagi kegiatan pendidikan untuk mengenal ekosistem pesisir, mengenal tumbuhan dan hewan laut, dan pendidikan cinta alam.  Antara lain karena terumbu karang ada di perairan yang dangkal, sehingga mudah dijangkau, dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga banyak biota laut yang dapat kita amati.
Selain itu terumbu karang juga berperan sebagai sarana penelitian.  Untuk melindungi terumbu karang dan biota laut yang hidup di dalamnya, serta untuk dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan di terumbu karang, maka perlu adanya berbagai jenis penelitian.  Apabila kita ingin mejaga kelestarian terumbu karang, maka kita perlu meneliti faktor apa saja yang dapat mengancam kelestariannya, dan bagaimana memulihkan terumbu karang yang terganggu, sehingga kita dapat melakukan upaya-upaya yang diperlukan.  Demikian pula apabila kita ingin melindungi satu jenis spesies di terumbu karang maka kita perlu meneliti cara hidup spesies tersebut, apa saja yang dimakannya, bagaimana cara berkembang biaknya, dan lain sebagainya.

2.    Sebagai Sarana Rekreasi Masyarakat
Terumbu karang dengan segala keindahannya dapat dijadikan sarana rekreasi keluarga untuk melakukan aktivitas renang, dan lain sebagainya.


D.  MANFAAT BERKELANJUTAN:
1.    Perikanan lepas pantai. Berbagai sumberdaya ikan pelangis (misal. Scombridae, Exocoetidae, Carangidae, Characharinidae) bergantung pada ekosistem terumbu karang, baik sebagai lokasi memijah, membesarkan anak, dan makan.
2.    Perikanan terumbu. Empat kelompok sumber daya ikan terumbu yang penting bagi nelayan:
·         Ikan, misal. Muraenidaem Serranidae, Holocentridae, Lutjanidae, dll
·         Avertebrata, misal. Gastropoda, Bivalva, Crustasea, Cephalopoda, Echinodermata, Coelenterata
·         Reptil, misal. Ular laut dan penyu
·         Makrofita, misal. Alga dan lamun
·         Perlindungan pantai dan pulau kecil
·         Wisata bahari
·         Marikultur
·         Bioteknologi
·         Perdagangan biota ornamental
·         Wilayah perlindungan
·         Penambangan pasir karang
·         Kerajinan souvenir
·         Penelitian dan pendidikan
3.    Manfaat terumbu karang sebagai daerah tangkap ikan (fishing ground) nelayan tradisional



E.  MANFAAT YANG TIDAK BERKELANJUTAN
·         Aktivitas ekstratif
·         Perikanan dengan metode destruktif
·         Pengumpulan organism terumbu
·         Perdagangan biota ornamental
·         Pembangunan persisir
·         Manfaat terumbu karang dapat berkurang atau bahkan musnah apabila di wilayah pesisir terdapat aktivitas pembangunan yang tidak ramah lingkungan
·         Peranan terumbu karang terhadap sistem perikanan. Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling produktif dan tinggi keanekaragaman hayatinya.
·         Produktivitas primer yang tinggi dan kompleksnya habitat yang terdapat di ekosistem terumbu karang memungkinkan daerah ini berperan sebagai tempat pemijahan, tempat pengasuhan dan tempat mencari makan berbagai spesies ikan dan biota laut lainnya. Dengan demikian, secara otomatis produksi sekunder (ikan dan biota laut lain) di daerah terumbu karang juga sangat tinggi.
·         Komunitas ikan di ekosistem terumbu karang terdapat dalam jumlah yang besar dan terlihat mengisi seluruh daerah di terumbu, sehingga dapat dilakukan bahwa ikan merupakan penyokong berbagai macam hubungan yang ada dalam ekosistem terumbu. Tingginya keanekaragaman jenis dan kelimpahan komunitas ikan di ekosistem.



Dan apa sih Fungsi Ekosistem Terumbu Karang ini?
Terumbu karang merupakan sumber daya yang memiliki nilai konservasi tinggi karena memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, keindahan dan menyediakan cadangan sumber plasma nutfah. Nilai ekonomi terumbu karang diperkirakan setengah dari nilai ekonomi hutan tropik basah. Karena memiliki nilai estetika tinggi, terumbu karang dapat menunjang kegiatan pariwisata di wilayah pesisir laut. Diperkirakan ekosistem terumbu karang yang ada di Indonesia memiliki keanekaragaman spesies sebanyak 335-362 spesies karang Scleractinia dan 263 spesies ikan hias laut. Hal ini menjadikan terumbu karang sebagai modal utama dalam pengembangan wisata bahari di Indonesia.
Fungsi lain dari terumbu karang:
1.    Tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang menjadi tumpuan kita.
2.    Sumberdaya laut yang mempunyai potensi ekonomi yang sangat tinggi.
3.    Sebagai laboratorium alam untuk penunjang pendidikan dan penelitian.
4.    Terumbu karang merupakan habitat bagi sejumlah spesies yang terancam punah seperti kima raksasa dan penyu laut.
5.    Dari segi fisik terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistem pantai lain seperti padang lamun dan mangrove.
6.    Terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi.  Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis di antaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3-10 ton ikan per kometer persegi pertahun.
7.    Keindahan terumbu karang sangat potensial untuk wisata bahari. Masyarakat di sekitar terumbu karang dapat memanfaatkan hal ini dengan mendirikan pusat-pusat penyelaman, restoran, penginapan sehingga pendapatan mereka bertambah.



Bagaimana Keadaan Terumbu Karang Dunia saat ini?
Telah sering disebut bahwa ekosistem terumbu karang memiliki arti yang amat penting bagi kehidupan manusia, baik dari segi ekonomi maupun sebagai penunjang kegiatan rekreasi karena keindahannya. Terumbu karang tersebar di seluruh dunia dan mencakup lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia, dengan luas diperkirakan mencapai 600.000 km2. Mulai dekade 1990-an, para ahli mulai mengangkat isu tentang semakin memburuknya kondisi terumbu karang dunia, antara lain Indonesia. Saat ini diperkirakan 10 persen dari terumbu karang dunia dalam kondisi sangat rusak dan bahkan kemungkinan tidak dapat dipulihkan kembali. Dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, apabila tidak ada upaya pelestarian yang intensif, maka diperkirakan 30 persen dari terumbu karang yang ada akan mengalami nasib yang sama.
Kegiatan manusia merupakan penyebab terbesar menurunnya kondisi ekosistem terumbu karang dunia. Semakin cepat pertumbuhan penduduk dunia, semakin padat pula pemukiman di daerah pesisir, maka semakin terancam pula keberadaan ekosistem terumbu karang beserta sumber daya laut lainnya.
Ekploitasi sumber daya ekosistem terumbu karang di berbagai negara telah diperburuk oleh banyaknya sumber daya yang terbuang sia-sia karena cara penangkapan ikan secara merusak.
Pencemaran dan pesatnya pembangunan di daerah pesisir dan laut semakin mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang. Selain itu, bencana alam selain badai, gempa bumi dan efek dari El Niño telah mengakibatkan rusak parahnya ekosistem terumbu karang di berbagai Negara dengan ditandai oleh matinya berbagai jenis karang batu.



Dan Bagaimana Keadaan Terumbu Karang di Indonesia saat ini?
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, hampir sepertiga kondisi terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan atau kurang baik. Meskipun kondisi ini telah mengalami tren membaik dalam sepuluh tahun terakhir.
Sebanyak 30,4 persen dari total luas terumbu karang yang dimiliki oleh Indonesia berada dalam kondisi rusak atau tidak baik. Hanya sebesar 2,59 persen dan 27,14 persen yang dalam kondisi sangat baik dan baik. Selebihnya, 37,18 persen dalam kondisi kurang baik.
Terumbu karang (coral reef) Indonesia merupakan yang terkaya di dunia. Luas terumbu karang di Indonesia ini mencapai 2,5 juta hektar. Selain luas, terumbu karang Indonesia pun memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Sedikitnya 750 jenis karang yang termasuk ke dalam 75 marga terdapat di Indonesia.
Sayangnya, kekayaan ini nyaris hilang. Berbagai survei mencatat tingkat kerusakanterumbu karang Indonesia yang sangat memprihatinkan. Survei terbaru dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dengan melakukan pengamatan di 1.135 stasiun, hingga 2013, tercatat 5,29 persen dalam kondisi sangat baik, sebesar 27,14 persen masih dalam kondisi baik, dan sebesar 37,18 persen dalam kondisi cukup. Sisanya sebesar 30,4 persen dalam kondisi tidak baik.
Kerusakan terparah salah satunya adalah di teluk Jakarta. Persentase terumbu karang yang baik di teluk Jakarta tidak mencapai dua persen. Data ini dirilis oleh LIPI dalam diskusi media bertajuk “Riset Ekosistem Terumbu Karang di Indonesia” yang berlangsung di Media Center LIPI, Jakarta, Kamis, 17 April 2014.



 Faktor-faktor apa saja sih yang menyebabkan Rusaknya Ekosistem Terumbu Karang ini?

1.  FAKTOR DARI ALAM
Bencana alam dan kejadian lainnya yang terjadi secara alamiah dapat merusak terumbu karang.  Di bawah ini tercantum hal-hal yang dapat merusak terumbu karang yang terjadi secara alamiah, antara lain ialah:
·         Gempa bumi berakibat memporak-porandakan terumbu karang
·         Badai di laut seperti halnya tsunami berakibat menghancurkan terumbu karang
·         Kenaikan suhu air laut dan kenaikan permukaan air laut pada tahap tertentu dapat mematikan karang
·         Penyakit antara lain akibat infeksi oleh bakteri berakibat mematikan karang
·         Serangan hewan pemangsa (Bulu Seribu) berakibat mematikan karang


2.  FAKTOR DARI KEGIATAN MANUSIA
a.    Penangkapan Ikan Dan Biota Laut Lainnya Dengan Cara Yang Merusak
Contohnya menangkap ikan dan hasil laut lainnya dengan menggunakan bom dan racun potasium sianida.  Bom yang dilemparkan di terumbu karang akan menghancurkan koloni karang dan biota laut lainnya di sekitar terumbu karang.  Menuang racun di sekitar terumbu karang untuk menangkap ikan hias juga akan mematikan karang dan biota laut lainnya. Terumbu karang adalah rumah bagi tumbuhan dan hewan laut, termasuk ikan-ikan.  Jika terumbu karang hancur maka ikan-ikan akan sulit ditemukan.

b.    Pengambilan Biota Laut Untuk Diperdagangkan
Pengambilan karang untuk diperdagangkan akan sangat merusak terumbu karang.  Jika karang tidak ada maka terumbu karang tidak akan terbentuk.  Pengambilan biota laut di terumbu karang, seperti kima yang menempel pada koloni karang juga akan merusak terumbu karang.  Oleh karena ketika mengambil biota laut mereka menginjak-injak dan mencongkel karang.  Pengambilan biota laut secara berlebihan juga dapat mengganggu keseimbangan jaring-jaring makanan di terumbu karang.
Contohnya jika kita banyak mengambil keong triton (Charonia tritonis), yakni sejenis keong laut yang ukurannya besar, untuk cenderamata, maka akan terjadi gangguan.  Keong laut ini memakan Bulu Seribu, maka jika ia habis diambil, maka Bulu Seribu tidak mempunyai pemangsa, maka jumlah Bulu Seribu menjadi banyak dan ini merugikan, karena Bulu Seribu memangsa karang.

c.    Pembuangan Sampah Ke Laut
Sampah yang dibuang dari tepi pantai, ataupun dari tengah laut (dari atas kapal misalnya), akan mencemari perairan laut, termasuk perairan di sekitar terumbu karang.  Sampah plastik dapat membunuh hewan-hewan laut, seperti Penyu Sisik, karena Penyu Sisik akan mengira sampah plastik sebagai makanannya, yakni ubur-ubur, sehingga sampah itu ditelannya dan mengakibatkan kematian.
Sampah juga akan mematikan karang, karena sampah menutupi dan menempel pada koloni karang keras, sehingga zooxanthellae (tumbuhan bersel satu yang hidup di jaringan tubuh si hewan karang) tidak dapat berfotosintesis, sehingga zooxanthellae dapat mati dan akhirnya si hewan karang juga dapat mati.  Selain itu sampah juga akan membuat lingkungan di sekitar laut menjadi buruk dan kotor.

d.    Kegiatan Wisata Yang Tidak Memperdulikan Lingkungan
Kegiatan wisata baik itu berupa kegiatan jalan-jalan di pantai, berenang, snorkeling, ataupun menyelam di terumbu karang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat merusak terumbu karang.  Wisatawan akan membuang sampah tidak pada tempatnya.  Mereka juga dapat menginjak-injak, menyentuh, membunuh, ataupun dan mengambil karang dan biota laut lainnya.

e.    Pencemaran Dari Darat Ke Laut
Pencemaran dari darat dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir.  Sungai dari darat yang mengalir hingga ke muara dan berakhir di laut dapat membawa limbah (zat pencemar).  Secara umum limbah dapat dikategorikan menjadi limbah padat (yakni sampah plastik, kaleng, dll.), dan limbah cair (pupuk kimia, zat racun dari industri, dll.).  Pupuk kimia merupakan makanan bagi Bulu Seribu yang masih kecil, sehingga ketika ada banyak pupuk kimia mengalir ke laut, maka jumlah Bulu Seribu akan menjadi banyak dan menjadi hama yang akan memakan karang.

f.     Sedimentasi Dari Darat
Masuknya sedimen, sering disebut sebagai sedimentasi, yang biasanya dari arah darat ke laut, dapat merusak terumbu karang.  Sedimen seperti lumpur yang datang dari darat akan membuat perairan di sekitar terumbu karang menjadi keruh.  Akibatnya zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuh polip karang akan sulit untuk berfotosintesis, dan dapat mati, akhirnya karang juga dapat mati.

g.    Pembangunan Di Wilayah Pesisir (Tepi Pantai)
Mengapa pembangunan di wilayah pesisir dapat merusak ekosistem yang ada di pesisir dan laut?  Oleh karena pembangunan di wilayah pesisir, seperti pembangunan pusat perbelanjaan dan pembangunan pemukiman, menghasilkan sedimen (adanya tanah, semen dan lumpur) yang akan mencemari perairan di sekitar terumbu karang.  Selain itu sampah yang dihasilkan dari pusat perbelanjaan dan pemukiman yang tidak dikelola dengan baik, juga akan mencemari wilayah terumbu karang.
Pembangunan di wilayah pesisir juga akan mengurangi areal lahan mangrove.  Mata rantai antara ekosistem hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang dapat terputus.  Hutan bakau dan padang lamun berjasa besar dalam mencegah pencemaran dari darat ke laut.



Apa Dampak dari Kerusakan Terumbu Karang ini?
Kegiatan penambangan, penangkapan ikan dengan racun, membuang sampah di laut, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat merusak terumbu karang, pada akhirnya akan berdampak pada ekosistem laut dan masyarakat itu sendiri.

1.    Bagi ekosistem laut dan pantai
Terumbu karang menjadi tempat bagi hewan dan tanaman yang berkumpul untuk mencari makan, berkembang biak, membesarkan anaknya, dan berlindung. Jika terumbu karang mengalami kerusakan daya perlindungan dan suplay makanan yang dihasilkan akan mengalami penurunan. Akibatnya bagi hewan dan tumbuhan yang tergantung padanya, mengalami gangguan. Ikan-ikan menjadi kurang sehat karena makanan mereka kurang.
Terumbu karang memiliki kemampuan untuk memproduksi oksigen sama seperti fungsi hutan di daratan, sehingga menjadi habitat yang nyaman bagi biota laut. Jika terumbu karang mengalami kerusakan maka suplay oksigen dari terumbu karang yang dibutuhkan oleh biota laut mengalami penurunan.
Terumbu karang berfungsi untuk menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. Jika terumbu karang mengalami kerusakan maka kemampuan terumbu karang dalam menahan dan memecah energi gelombang laut akan berkurang. Akibatnya energi gelombang laut yang datang masih cukup besar dan dapat menyebabkan kerusakan di sekitar pantai (abrasi).

2.    Bagi masyarakat
Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan pada kegiatan diving, karena variasi terumbu karang yang berwarna-warni dan bentuk yang memikat merupakan atraksi tersendiri bagi wisatawan baik asing maupun domestik. Hal ini merupakan salah satu sumber pengahasilan warga sekitar, jika terumbu karang rusak maka sudah tidak menarik lagi bagi para wisatawan untuk berkunjung dan berwisata ke daerah tersebut. Maka penghasilan warga yang di dapat dari para wisatawan akan menurun.
Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. Selain itu, masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahuinya. Terumbu karang yang rusak tidak akan menjadi tempat biota laut untuk berlindung, berkembang biak dan mencari makan. Akibatnya, kegiatan penelitian tidak lagi dapat dilakukan.



Apa Upaya Pelestarian Terumbu Karang dari Pemerintah Wilayah Indonesia?
Untuk dapat melestarikan terumbu karang, perlu dilakukan upaya-upaya pengelolaan terumbu karang agar tetap lestari. Upaya tersebut antara lain:
1.    Diterbitkannya peraturan-peraturan yang berkaitan dengan terumbu karang
Peraturan tentang terumbu karang terdapat pada Undang-Undang Lingkungan Hidup No.23 tahun 1997. Dimana setiap orang secara pasif wajib mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan; dan secara aktif wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan telah menetapkan berbagai upaya dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan. Terumbu karang adalah salah satu sumberdaya perikanan di Indonesia.
Undang-Undang menetapkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau pengrusakkan terhadap sumberdaya perikanan serta lingkungannya. Selain dengan pendekatan pencegahan, keberlanjutan sumberdaya juga perlu dilakukan melalui upaya konservasi dari tingkat ekosistem, jenis, maupun genetik terhadap sumberdaya ikan.
Oleh karena Undang-Undang Perikanan tidak secara khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu karang, maka diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38/Men/2004 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan secara seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian. Demikian pula secara sinergis direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat, pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga non-pemerintah.
Untuk mencapai harapan di atas, Pemerintah menetapkan 9 strategi yang mencakup:
Strategi 1 :     Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem terumbu karang
Strategi 2 :     Mengurangi laju degradasi terumbu karang
Strategi 3 :     Mengelola terumbu karang berdasarkan karakteristik ekosistem, potensi, tata ruang wilayah, pemanfaatan, status hukum, dan kearifan masyarakat pesisir
Strategi 4 :     Merumuskan dan mengkoordinasikan program-program instansi pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, dan masyarakat yang diperlukan dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat
Strategi 5 :     Menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas, dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang
Strategi 6 :     Mengembangkan, menjaga serta meningkatkan dukungan masyarakat luas dalam upaya-upaya pengelolaan ekosistem terumbu karang secara nasional dengan meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat mengenai arti penting nilai ekonomis dan ekologis dari terumbu karang
Strategi 7 :     Menyempurnakan berbagai peraturan perundang-undangan serta mendefinisikan kembali kriteria keberhasilan pembangunan suatu wilayah agar lebih relevan dengan upaya pelestarian lingkungan ekosistem terumbu karang
Strategi 8 :     Meningkatkan dan memperluas kemitraan antara pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, swasta, LSM, dan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara berkelanjutan
Strategi 9 :     Meningkatkan dan mempertegas komitmen pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri dalam penyediaan dana untuk mengelola ekosistem terumbu karang

2.    Upaya pelestarian dan rehabilitasi terumbu karang
Berikut beberapa upaya pelestarian dan rehabilitasi terumbu karang yang sudah dilakukan di wilayah perairan Indonesia.
Ø  Pembentukan taman nasional laut sebagai kawasan konservasi, untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.  Contohnya Taman Nasional Laut Bunaken, Taman Nasional Laut Wakatobi, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Ø  Penetapan DPL (Daerah Perlindungan Laut) / APL (Area Perlindungan Laut) / KPL (Kawasan Perlindungan Laut) untuk melindungi sumberdaya perikanan beserta ekosistemnya dari ancaman kerusakan.  DPL/APL/KPL ini sebaiknya berbasis masyarakat sehingga masyarakat dapat ikut memantau dan mengelolanya.
Ø  Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui perlindungan area terumbu karang yang rusak untuk upaya pemulihan.  Suatu area terumbu karang yang mengalami kerusakan namun masih berpotensi untuk dipulihkan, maka dilakukan upaya perlindungan area tersebut dengan menutup area itu sementara dari aktivitas perikanan, untuk membiarkannya pulih kembali.
Ø  Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang.  Transplantasi karang ialah sebuah upaya perbanyakan karang dengan menggunakan kemampuan regenerasi karang secara aseksual.  Namun demikian belum diketahui seberapa efektif upaya ini karena kegiatan transplantasi karang masih terbatas dilakukan pada jenis-jenis karang tertentu saja dan tingkat keberhasilannya masih sangat tergantung dari lingkungan perairan di sekitarnya (masih sangat bergantung pada alam).
Ø  Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui penyediaan substrat keras untuk tempat menempel larva karang. Upaya ini terdiri dari peletakan substrat keras dari bahan kapur ke dasar laut dan membiarkan larva karang menempel dan hidup serta berkembang.  Selain itu ada juga yang memfasilitasi pembentukan zat kapur dari reaksi kimia melalui pemberian listrik di perairan laut, sehingga terbentuk substrat keras sebagai tempat larva karang untuk menempel.
Ø  Kegiatan pendidikan, pelatihan, kampanye, maupun penyadaran kepada berbagai pihak tentang pentingnya melestarikan ekosistem pesisir, juga menjadi bagian dari upaya pelestarian terumbu karang.



Lalu, Upaya apa yang dapat kita lakukan sebagai Masyarakat?
A.   SEBELUM ANDA MERENCANAKAN UNTUK MENGEKSPLORASI KARANG 
1.    Untuk memilih tempat berlibur, pilihlah tempat atau hotel yang ramah lingkungan; yakni tempat-tempat yang senantiasa melihat pentingya akan konservasi, mendaur ulang limbahnya, mengolah sampah padatnya dengan cara-cara yang bertanggung jawab.
2.    Bayarlah iuran atau berikan sumbangan untuk mendukung pengelolaan bila hendak memasuki wilayah karang atau wilayah-wilayah konservasi lainnya.
3.    Dapatkan instruksi snorkeling sebaik mungkin.
4.    Pastikan anda melatih ilmu snorkeling jauh dari daerah karang.
5.    Pastikan peralatan anda harus pas betul sebelum melakukan snorkeling dekat karang  akan sangat sulit sekali menyesuaikan diri di dalam air.
6.    Bila anda merasa kurang yakin, atau anda merasa belum menjadi seorang snorkler yang berpengalaman, gunakan pemberat sebagai untuk membantu menjaga keseimbangan.
7.    Pelajari secara seksama mengenai seluk-beluk terumbu karang – terumbu karang sangat menarik namun perlu disadari bahwa terumbu karang merupakan sebuah lingkungan yang mudah rusak juga.

B.   DI DALAM AIR
1.    Jangan pernah menyentuh karang-karang; meskipun hendak memegangnya secara perlahan. Ada beberapa jenis karang yang dapat menusuk bahkan melukai anda.
2.    Pilihlah tempat jalan masuk maupun jalan keluar untuk mengindari berjalan di atas karang.
3.    Menjaga  jarak yang aman dengan karang sehingga  mampu menghindari sentuhan dengan karang.
4.    Ketahui dengan benar dimana posisi penyeimbang anda dan upayakan jangan sampai menyentuh pasir.
5.    Tetaplah pada posisi  datar di dalam  air ketika anda berada  dekat atau di atas karang.
6.    Belajarlah berenang tanpa menggunakan kedua tangan terlebih dahulu.
7.    Bergerak secara perlahan – lahan dan  dengan hati – hati  di dalam air, santai saat anda berenang dan manfaatkan waktu anda dengan baik. Ingat,  waktu anda di dalam air cukup mengamati saja tetapi jangan pernah menyentuh.

C.   MEMPERKECIL KONTAK DENGAN KEHIDUPAN LAUT
1.    Jangan membawa makhluk yang masih hidup ataupun yang sudah mati keluar dari air terkecuali kotoran- kotoran yang tidak terdapat organisme hidup dalam kotoran tersebut.
2.    Jangan pernah mengusir atau mencoba mengendalikan kehidupan laut.
3.    Jangan pernah menyentuh, menangani atau  memberi makan kehidupan  laut kecuali dibawah  bimbingan pakar, dan patuhilah  semua petunjuk yang telah dibuat secara lokal.
4.    Hindari penggunaan kaos tangan  di dalam  lingkungan karang.

D.   DI ATAS KAPAL
1.    Pilihlah usaha snorkeling yang kapalnya menggunakan tempat penambatan tali (mooring) yang benar – jangkar dan rantai tidak merusak karang-karang yang mudah hancur.
2.    Pastikan bahwa sampah-sampahnya disimpan dengan baik, khususnya sampah-sampah plastik.
3.    Pastikan bahwa benda-benda yang anda bawa seperti kardus, baterai yang sudah terpakai serta botol-botol minuman dibawa turun dari kapal untuk di buang dengan benar.
4.    Bantulah taman-taman karang maupun upaya-upaya konservasi lainnya dengan:
5.    Mengunjungi taman-taman karang yang telah ditetapkan serta membayar uang iuran masuk untuk mendukung kegiatan konservasi kelautan.
6.    Dukung dan bantu penggunaan  tempat penambatan kapal.
7.    Berpartisipasi dalam kegiatan yang diprakarsai masyarakat setempat dalam memonitor lingkungan laut.  Berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan.
8.    Bekerja sebagai relawan dalam mendukung taman karang. Misalnya, anda dapat turut serta dalam survey terumbu karang, melakukan program penjangkauan, atau memberikan pendidikan bagi mereka yang membutuhkan mengenai pelestarian terumbu karang.
9.    Menyumbangkan alat-alat seperti kamera, peralatan selam atau buku identifikasi terumbu karang.
10. Hindari pembelian cindera mata yang terbuat dari karang, penyu maupun hewan-hewan laut lainnya – karena hal ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilegal, dan dianggap tidak ramah terhadap lingkungan.
11. Suarakan dengan lantang. Pastikan bahwa orang-orang yang melakukan snorkeling tersebut paham hal-hal sederhana namun penting dalam latihan pelestarian lingkungan.


DAFTAR REFERENSI